Minggu, 24 April 2011

Nenek dan Sapu Ijuk

oleh Harry Suryo pada 13 Juli 2010 jam 15:48

Suatu hari setelah saya selesai makan dari sebuah warung soto ayam di dekat pasar Dargo, saya melihat seorang nenek renta yang berpakaian lusuh layaknya seorang pengemis. Dia duduk bersimpuh dengan merangkul tiga ikat sapu ijuk.

Merasa iba, saya menyodorkan selembar kertas ribuan rupiah. Tapi si nenek itu dengan rona wajah kecewa menggelengkan kepala. Saya mencoba memberikan uang tersebut ke genggamannya, sekali lagi dia menolaknya. Saya jadi bengong sendiri, kenapa si nenek ini, apakah pemberianku kurang.

Dari dalam warung keluar si pemilik, dia menghampiriku sambil berbisik, "Mas, nenek ini bukan pengemis, tapi dia penjual sapu."

Saya mendekati nenek itu, "berapa harga sapu ijuk ini, nek?" tanya saya. "Setunggalipun sewu gangsalatus, nak" jawab si nenek.

"Saya beli semuanya, nek", sambil menyodorkan uang lima ribuan rupiah.

Terdengar lirih suara gumamannya, "Ya Allah Gusti, sepeser pun saya nggak punya kembaliannya."

"Sudah nek, kembaliannya buat nenek saja," sahutku.

"Tidak, nak. Terima kasih. Saya tukarkan dulu ya", sambil tertatih dia pergi melangkah ke sebuah warung rokok untuk menukarkan uang pemberianku itu.

Tidak berapa lama, dia kembali sambil memberian uang lima ratus rupiah sebagai kembaliannya.
"Monggo nak, uang kembaliannya."

"Ini sapu buatan saya sendiri, semoga awet untuk dipakai, nak."

Akhir cerita, silakan Anda menyimpulkan sendiri.

Dialog : Lantai dan Patung Marmer

oleh Harry Suryo pada 16 Juli 2010 jam 16:09


Setiap orang yang mengunjungi museum itu pasti menginjakkan kakinya di hamparan lantai marmer sambil melihat dengan penuh kekaguman pada "Patung Marmer" di dekat tungku perapian. Kejadian setiap hari itu membuat "Lantai Marmer" menjadi berang kepada "Patung Marmer".

"Ini nggak adil! Masak saya selalu di injak-injak orang setiap hari, bahkan kemarin dikencingi bocah laki2," umpat si Lantai kepada Patung, di dekatnya. "Padahal kita 'kan berasal dari tempat yang sama. Tapi coba lihat, kamu selalu dikagumi orang, sementara saya dicuekin".

"Kawan," jawab si Patung sambil tetap membisu, "Mengapa ingatanmu demikian pendek. Kita berasal dari batu gunung yang sama, tapi tidakkah kau ingat, apa yang terjadi setelah itu?".

"Tidak !" jawab si Lantai ketus.

"Coba kau ingat kembali. Ketika pemahat memotong kita dari lereng gunung, bukankah kau menolak peralatan pahat yang hendak mengukirmu?"
"Tentu saja aku tidak mau!" teriak si Lantai, Tindakan itu sungguh menyakitkan. Aku nggak perlu dibentuk."

"Ya...itulah. Karena kau melawan ketika akan dipahat, akhirnya si pemahat memilih aku," jelas si Patung.
"Dan aku pun bersedia menanggung segala penderitaan dan rasa perih. Sungguh-sungguh menyakitkan ketika dipahat."

"Ya, aku memang tidak berpikir sejauh itu."

"Kau menyerah di tengah jalan," kata si Patung, "Makanya jangan kau merasa menyesal dan menyalahkan orang-orang yang menginjak-injakmu."

Pemburu, Pelayan dan Burung Bangau

oleh Harry Suryo pada 27 Agustus 2010 jam 17:21

“Mengapa burung bangau bakar ini kakinya hanya ada satu?" tegur seorang pemburu kpd pelayannya yang baru. Dia sebenarnya tahu bahwa si pelayan telah mengambil sebelah kaki bangau bakarnya. Keesokan harinya dia mengajak pelayannya utk brburu lagi. Melihat seekor bangau berdiri di tengah sawah, si pelayan dengan tertawa menunjuk ke arah bangau itu, “Tuan, bukankah bangau itu kakinya hanya satu?” Mendengar hal itu si pemburu tdk berkata apa2, tetapi diam-diam dia mendekati bangau itu dan menggertaknya. Karena digertak oleh si pemburu, bangau itu terbang. “Nah, lihat tuh! Bangau itu kakinya dua sekarang, mengerti!” ujarnya dg geram. “Mengapa bangau yang d atas meja kemarin tidak Tuan gertak saja, agar ia mau mengeluarkan kakinya yg satu lagi?!”

Sang Maharaja

oleh Harry Suryo pada 29 Agustus 2010 jam 14:42

Pada jaman dahulu hiduplah seorang maharaja yang amat berkuasa, namanya Sang Maharaja Syah Alam, banyak negara yang menjadi taklukannya. Dan setiap tahun tepat hari ulang tahun sang maharaja, seluruh raja negara taklukan datang untuk membayar upeti kepada sang maharaja atau hadiah ulang tahun beliau. Di antara raja-raja tersebut ada tiga raja yang miskin,yaitu raja duku, raja rambutan dan raja durian. Nama raja tersebut sesuai dengan penghasilan dari negara masing – masing. Tepat pada hari ulang Maharaja Syah Alam berangkatlah ketiga raja tersebut membawa hasil negaranya yaitu duku, rambutan dan durian. Sesampainya dikerajaan Syah Alam majulah raja duku untuk mempersembahkan buah duku hasil dari negaranya (maklum raja melarat). Melihat persembahan dari raja duku murkalah sang raja dan raja berkata “Untuk apa kamu jauh – jauh kemari cuma menyumbang buah duku !!!” Maka Maharaja Syah Alam memerintahkan prajuritnya untuk menghukum raja duku tersebut. Sabda beliau: “hei … prajurit masukan duku itu kedalam , ma'af, pantat raja duku.” Maka dengan paksa dimasukkanlah duku tersebut kepantat raja duku. Karena kesakitan raja duku pun berteriak – teriak “aduh…aduh ampun paduka !!! sakit …. sakit…… sakitttt.. haaaaa…… haaaaa…” Semua yang hadirpun terheran -heran termasuk Maharaja Syah Alam, kenapa habis berteriak teriak kesakitan raja duku kok tertawa terbahak bahak. Setelah raja duku berhenti tertawa bertanyalah sang Maharaja Syah Alam. “Hei !!! raja duku kenapa engkau setelah berteriak – teriak kesakitan terus tertawa terbahak-bahak ?. Dengan takut – takut raja duku menjawab “dimasukin buah duku saja begini sakitnya apalagi teman saya si Raja rambutan lebih – lebih raja durian…

Romantisme Kakek dan Nenek

oleh Harry Suryo pada 29 Agustus 2010 jam 19:47

Suatu hari ada sepasang kakek – nenek sedang menuju ke sebuah restoran, mereka duduk berdua berdampingan dan memesan makanan.
Saat pesanan itu datang, si kakek terlihat begitu romantis, dia terlihat membagi makanannya kepada si nenek, ah, memang romantis sekali. Perilaku kakek ini diperhatikan oleh pengunjung disekelilingnya, mereka nampak kagum sekali. Begitu mesranya mereka berdua. Bener-bener TTM (Tua Tetap Mesra).
Terlihat kakek makan, nenek memperhatikan suaminya sambil tersenyum, dia tak mau makan hidangan yang diberikan kakek kepadanya. Sampai si kakek selesai makan, mengelap mulut dengan tisu, si nenek masih saja menunggu tanpa menyentuh makanan bagiannya.
Salah satu pengunjung pun heran dan menanyakan perihal ini, “Nek, boleh saya belikan makanan yang lain, mungkin nenek tidak suka yang ini?”
“tidak, terima kasih nak” kata Nenek sambil tersenyum.
“Kenapa, Nek?” kata pengunjung tersebut
Kata si Nenek, “Saya sedang menunggu gigi palsu, gantian sama kakek!”


Kalau hewan punya Facebook, kira-kira statusnya gini kali:

oleh Harry Suryo pada 31 Agustus 2010 jam 14:08

Kambing : Hati2 jangan kluar rumah friends hari ini idul adha...

Sapi : boro2 kluar rumah, belum disembelih, buntutku udah dipotong duluan nih!, buat sop buntut.

Anjing Pudel : Ssst, Jangan ribut!!! gw lg ngantri di salon neh...

Kecoak : Aaah!!! Baru aja selamat dari injekan maut, yeah!

Sapi Perah : Huh!!! sbel susuku di raba2 n di uyel2 lg oleh majikanku, tp gak di kawin2...

Kucing : Anak gue yang ke- 7 barusan nanya siapa bapaknya. Gue bingung mau jawab apa. Gue sendiri lupa bapaknya siapa?

Nyamuk: Gw positif HIV AIDS neh!

Ayam : Teman-teman...kalo besok gw ga bikin status... berarti gw udah di goreng... i luv u all...Mmuuuaaah!!!

Cumi-cumi: Abis nglayat engkong gw, si Paul Gurita sambil isi ulang tinta nich.

Babi: Gw difitnah nyebarin flu. Sialan!!

Unta: Dasar babi!!!, jg deket2, najis tau!!!!

Domba : Hai mana sih yayang gw si Wedhus Gembellll!!!! I miss u...

Kambing Hitam: Sialan!! gara2 buluku hitam, aku di cari2 "Tukang Pembenar".

Sekedar Renungan : Kisah Nenek Pemungut Daun

oleh Harry Suryo pada 01 September 2010 jam 7:57

Di sebuah kota di Madura, ada seorang nenek tua penjual bunga cempaka. Ia menjual bunganya di pasar, setelah berjalan kaki cukup jauh. Usai jualan, ia pergi ke masjid Agung di kota itu. Ia berwudhu, masuk masjid, dan melakukan salat Zhuhur. Setelah membaca wirid sekedarnya, ia keluar masjid dan membungkuk-bungkuk di halaman masjid.

Ia mengumpulkan dedaunan yang berceceran di halaman masjid. Selembar demi selembar dikaisnya. Tidak satu lembar pun ia lewatkan. Tentu saja agak lama ia membersihkan halaman masjid dengan cara itu. Padahal matahari Madura di siang hari sungguh menyengat. Keringatnya membasahi seluruh tubuhnya.

Banyak pengunjung masjid jatuh iba kepadanya. Pada suatu hari Takmir masjid memutuskan untuk membersihkan dedaunan itu sebelum perempuan tua itu datang.

Pada hari itu, ia datang dan langsung masuk masjid. Usai salat, ketika ia ingin melakukan pekerjaan rutinnya, ia terkejut. Tidak ada satu pun daun terserak di situ. Ia kembali lagi ke masjid dan menangis dengan keras. Ia mempertanyakan mengapa daun-daun itu sudah disapu sebelum kedatangannya. Orang-orang menjelaskan bahwa mereka kasihan kepadanya. “Jika kalian kasihan kepadaku,” kata nenek itu, “Berikan kesempatan kepadaku untuk membersihkannya.” Singkat cerita, nenek itu dibiarkan mengumpulkan dedaunan itu seperti biasa. Seorang kyai terhormat diminta untuk menanyakan kepada perempuan itu mengapa ia begitu bersemangat membersihkan dedaunan itu. Perempuan tua itu mau menjelaskan sebabnya dengan dua syarat: pertama, hanya Kiai yang mendengarkan rahasianya; kedua, rahasia itu tidak boleh disebarkan ketika ia masih hidup. Sekarang ia sudah meniggal dunia, dan Anda dapat mendengarkan rahasia itu.

“Saya ini perempuan bodoh, pak Kiai,” tuturnya. “Saya tahu amal-amal saya yang kecil itu mungkin juga tidak benar saya jalankan. Saya tidak mungkin selamat pada hari akhirat tanpa syafaat Kanjeng Nabi Muhammad. Setiap kali saya mengambil selembar daun, saya ucapkan satu salawat kepada Rasulullah. Kelak jika saya mati, saya ingin Kanjeng Nabi menjemput saya. Biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya membacakan salawat kepadanya.“

Kisah ini saya dengar dari Kiai Madura yang bernama Zawawi Imran, membuat bulu kuduk saya merinding. Perempuan tua dari kampung itu bukan saja mengungkapkan cinta Rasul dalam bentuknya yang tulus. Ia juga menunjukkan kerendahan hati, kehinaan diri, dan keterbatasan amal dihadapan Allah swt. Lebih dari itu, ia juga memiliki kesadaran spiritual yang luhur.

(kisah ini dituturkan oleh Kang Jalal, n copy paste from mukjizat sholat dan doa's agus syafii)